Cerita Dewasa - Indahnya Kehidupan di Salon

Baca Juga:

“Hmmmm…” Sovi menggumam karena nikmatnya pijatan Prily di pundaknya.
Sore itu Sovi berada di salon Citra. Tadi Sovi mampir untuk mengantarkan pepaya yang mau dia bagi untuk Citra, tapi setelah ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampe lama, akhirnya Sovi malah mendapat sesi pijat refleksi gratis dari asisten Citra, Prily.

“Enak kan pijitan Prily? Aku aja suka kok. Tiap hari pasti aku minta dia pijat aku dulu sebelum dia pulang,” ujar Citra yang berada di sebelah Sovi, sambil mengecat kuku.
Prilyane, biasa dipanggil Prily adalah kapster di salon Citra, satu-satunya karyawati Citra. Keahlian utamanya adalah memijat. Prily lebih muda daripada Citra dan Sovi, mungkin baru berumur sekitar 22, bertubuh pendek tapi berisi dengan lekuk-lekuk menantang. Sovi bisa melihat betapa sexynya celana pendek jeans dan T-shirt hijau ketat yang Prily pakai sore itu kerepotan melingkupi bokong dan payudaranya yang bahenol. Rias wajahnya tidak kalah meriah dibanding Citra, dengan lipstik merah cemerlang dan eyeshadow berwarna gelap di bawah rambut tebal yang agak megar dan sebagian di-highlight pirang.


“Eh, Mbak Sovi kok sekarang makin cantik aja ya? Biasanya juga cantik, tapi akhir-akhir ini jadi tambah kinclong lhoo…” komentar Prily dengan logat medok.
“Iya lah, kan gue yg permak,” ujar Citra dengan bangganya.
“Sovi ini baru dapat pencerahan, makanya perlu ganti imej. Gimana Vi? Mempan gak saranku?”
Sovi tidak menjawab, namun bibirnya yang tersaput lipstik pink tersenyum. Tapi dia sendiri merasa makin lama makin bisa masuk ke dalam kepribadian yang disarankan Citra. Kepribadian pelacur. Kejadian pagi dan siang itu menunjukkan kepada Sovi bahwa dia sebenarnya suka bisa menarik perhatian laki-laki. Memancing birahi mereka dan menguasai mereka. Seperti lonte-lontenya Bram. Seperti… Citra?

Sambil menikmati pijatan jari Prily yang sekarang mencapai pelipisnya, Sovi terpikir lagi mengenai perubahan penampilannya. Memang, waktu itu Citra menyarankan agar lebih berani dalam merias diri dan berpakaian supaya bisa menandingi perempuan-perempuan penjaja cinta yang sempat menarik perhatian Bram. Tapi Sovi baru sadar, bukan cuma mereka yang penampilannya dia tiru. Citra juga seperti itu.

Sejak dulu, Citra suka menggoda laki-laki. Siapapun. Teman sekolah, teman kuliah, karyawan orangtuanya, sembarang orang. Sovi tahu itu. Entah sudah berapa laki-laki yang menikmati tubuh kakak iparnya. Sampai akhirnya satu di antara mereka menghamili Citra. Lamunan Sovi terhenti karena dia mendengar bunyi pintu dibuka. Masuklah seorang laki-laki setengah baya ke dalam salon. Laki-laki itu bertubuh besar dan berpakaian rapi ala pebisnis, dengan kemeja mahal, dasi, dan celana bahan yang necis. Rambutnya yang dibelah pinggir mengkilap karena minyak rambut, matanya kecil dan bibirnya lebar.

“Halo halo,” sapanya sok akrab.
“Eh Pak Carolus. Ke mana aja, kok jarang ke sini?” jawab Citra, juga dengan akrab.
“Waduh, baru juga minggu lalu aku ke sini, manggilnya kok udah jadi formal lagi gitu?” kata Pak Carolus.
“Iya deh… Om Carol,” balas Citra dengan centil.
“Tadi ada yang SMS aku katanya Prily udah masuk lagi, jadi kangen sama pijatannya.”
“Emang siapa yang ngabarin?… Oh.” Pertanyaan Citra langsung terjawab ketika melihat Prily nyengir sambil mengacungkan HP-nya.
Citra mendekati Sovi yang masih duduk di kursi salon.
“Sovi, sori, kamu pulang dulu yah? Aku ada customer nih.”
“Iya Kak,” jawab Sovi, yang segera berdiri dan meninggalkan ruangan. Ketika berpapasan dengan Carol, Sovi mengangguk dan tersenyum, yang dibalas dengan tindakan yang sama oleh laki-laki necis itu. Carol terus memandangi Sovi sampai Sovi keluar dari salon.
“Ayo Om,” Citra dan Prily menghampiri Carol, membawanya ke satu ruangan lain dalam salon.
Ketika Sovi keluar, dilihatnya mobil Mercedes-Benz hitam terparkir di depan salon. Pasti mobil Pak Carolus yang tadi, pikirnya. Sovi ingat sesuatu, sesudah pertama kali dia di-makeover Citra dan terburu-buru pulang karena masih tidak pe-de akan penampilan barunya, dia melihat mobil itu.
Jadi waktu itu, dia yang datang…

Dua puluh menit kemudian, di rumahnya, Sovi menyadari dompetnya ketinggalan di salon Citra. Dia langsung beranjak kembali ke salon Citra.

“Gimana kabar bisnisnya, Om?”
Pak Carolus alias Om Carol sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur dalam ruang belakang salon Citra. Bagaimana tidak nyaman, kepalanya berbantalkan paha Prily, sedangkan Citra mengelus-elus tubuhnya yang sudah telanjang. Prily, yang tadi bertanya, sedang memijat dahi Carol.
“Apa ndak ada pernyataan lain tho Pril, wis pusing aku sama bisnisku, ee di sini malah ditanyai bisnis lagi. Mumet aku Pril, pesaing tambah buanyak. Aku ke sini mau refreshing, jangan tanya yang serius gitu yo?”
“Maaf deh Om,” kata Prily.
“Prily kasih nenen aja biar Om ga marah ya?”

Serta-merta Prily membuka kaosnya dari bawah sehingga Carol yang di pangkuannya bisa melihat jelas BH hitam berenda yang menutupi sepasang gundukan yang sejahtera. Prily menarik BH-nya ke atas sehingga bagian bawah teteknya bergandulan tepat di depan muka Carol. Pebisnis itu langsung menengok dan menowel-nowel dasar tetek Prily dengan hidungnya.
“Prily… asu tenan iki susumu… ini nih yang orang sebut tobrut… toket brutal… heeheehee…” Carol kegirangan, langsung saja dengan nakalnya dia menjulur-julurkan lidah berusaha menjangkau ranumnya buah dada Prily. Prily terkikik kegelian ketika lidah Carol mengenai sasaran.
Tangan Citra yang tadi memijati paha sekarang sudah pindah ke batang dan biji Carol. Beberapa usapan kemudian, tegaklah kejantanan Carol. Si pebisnis menghentikan sebentar wisata lidahnya di bawah tetek Prily untuk menengok ke arah Citra. Sore itu Citra tampil glamor walaupun hanya untuk kerja di salonnya, dalam blus biru muda tanpa lengan dan rok mini hitam. Seperti biasa, dia memakai make-up tebal, kulit wajahnya nyaris tanpa cela berkat foundation, bibirnya merah darah, garis matanya tajam oleh maskara.

“Eh, Cit, kapan kamu mau upgrade toket biar kayak Prily, biar gak jomplang, kan mukamu udah full modif gitu?” Carol memberi saran tanpa diminta. Jawaban Citra adalah senyum disertai tatapan tajam ke arah Carol, dan Carol pun merasakan cengkeraman keras dan tajam di pelirnya. Rupanya Citra main kuku…
“Becanda, becanda. Ampun Mbakyu, biji saya jangan dipites, kasihan Prily ntar…” Carol langsung berhenti membanyol… atau tidak.
“Tapi kalo sampeyan mau operasi bikin gede, bilang aja, nanti Om bayarin.”
Memang bijinya tidak dipites Citra, tapi kena sentil-lah batang Om Carol yang terlanjur tegak itu!

Sovi mendapati pintu salon Sovi tidak dikunci. Dilihatnya dompetnya tergeletak di meja rias yang tadi dihadapinya ketika dipijat Prily. Tapi ke mana Citra, Prily, dan Pak Carolus? Tadinya Sovi kira, paling-paling Pak Carolus datang untuk cukur rambut atau semacamnya. Mercy hitamnya juga masih ada di depan. Sovi melihat sekeliling, memperhatikan ruangan salon Citra. Memang salon tersebut tidak besar. Hanya tiga set kursi, gairahsex.com plus satu tempat cuci rambut, dan satu tempat tidur di ruang belakang untuk luluran. Tahun lalu, sesudah ditinggal suaminya yang kabur entah ke mana, Citra datang ke Bram dan Sovi meminta tolong. Walau Citra sudah diusir oleh keluarga, Bram tetap sayang dengan kakak kandungnya itu, dan Sovi yang lama mengenal Citra juga peduli. Bram dan Sovi membantu Citra dengan pinjaman modal dan sewa tempat untuk bisa berusaha sendiri, dan Citra memilih membuka salon di sebelah rumah Sovi dan Bram. Didengarnya suara-suara dari arah ruangan belakang yang dipisahkan tembok dari ruang utama salon dan berpintu tirai. Sovi mendekat…

Agaknya candaan Carol tadi tidak sampai membuat Citra sakit hati, karena Citra kini sedang menjilati penis Carol yang tadi disentilnya, bersama-sama Prily. Tambah ereksi Carol melihat dua muka penuh nafsu menyervis kejantanannya. Tapi ada satu lagi yang mau dia tanyakan kepada Citra.
“Cit, yang tadi itu siapa? Bempernya gede tuh, tampangnya cakep lagi.”
“Adik iparku tuh.” Jawab Citra
“Oo, adik ipar. Wuih. Sayang baru kenal. Adikmu mujur juga, ya?” Citra terkikik.
“Awas jangan diembat juga dia Om, udah ada yang punya!”
“Heeheehee, gimana ya? Kayaknya asyik tuh diulek bokongnya…”
“Sentil lagi nih,” ancam Citra sambil menyiapkan jarinya di samping kepala titit Carol.
“Iya deh, iya deh, ampun Ndoro Putri Ayu, kulo jangan disenthil lagi, atit…”

Sovi mendekat ke tirai yang menjadi pintu ruang belakang salon Citra. Disibaknya sedikit tirai itu untuk mengintip. Dan dia sungguh tak siap mendapati pemandangan di baliknya. Laki-laki perlente tadi—Pak Carolus—telanjang bulat di atas tempat tidur, Prily yang kaosnya sudah dilepas dan buah dadanya sedang dilahap mulut lebar Pak Carolus, dan… Citra, bersimpuh telanjang di depan Pak Carolus, menyepong senjata Pak Carolus. Ternyata… Kak Citra…?
Sovi terus menonton tanpa terlihat orang-orang yang berada di ruang belakang. Prily tertawa-tawa kegelian ketika susunya yang sensitif dipermainkan oleh Pak Carolus dengan tangan, bibir, dan lidah. Pak Carolus sesekali mengeluarkan komentar manja dan nakal, membuat Prily tersipu. Citra menggarap seluruh titik yang bisa dirangsang di bagian bawah tubuh Pak Carolus mulai dari batang zakar, pelir, bahkan sampai ke lubang duburnya. Sekali-sekali Pak Carolus berusaha menjamah tubuh Citra, tapi karena posisinya agak jauh, dia hanya dapat mengelus rambut Citra. Akhirnya Prily juga yang jadi sasaran gerayangan tangan Pak Carolus. Pelan-pelan, tangan Sovi bergerak ke arah selangkangannya sendiri.
kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,

“Cit, Pril… Om pengen nih…” pinta Carol yang sudah tak tahan dengan rayuan fisik kedua penggoda yang mencumbunya.
“Siapa nih yang mau… apa dua-duanya mau?”
“Hih, ge-er,” cela Citra,
“Siapa juga yang mau sama Om…”
“Aduh Citra sayang, jangan nolak Om gitu dong, kan hancur hati Om?”
“Nggak ah, habis Om gak asyik hari ini,” Citra jual mahal.
“Dari tadi ngeledekin aku terus.”
“Ayo dong Cit, kamu gak kasihan sama Om, dari tadi masuk juga Om udah nafsu banget dari ngelihatin mukamu aja, kalo gak dikasih Om bisa-bisa ntar merkosa anak orang…”
Walaupun alasan Carol jelek sekali, Citra tidak mau mengulur terlalu lama.
“Oke deh Om… tapi ada syarat. Tiduran telentang dulu ya Om. Pril, bangun dulu,” atur Citra. Carol tiduran telentang, tapi tongkat sakti-nya tidak ikut tiduran. Prily turun dari ranjang dan memberi jalan ke Citra. Citra naik dan kemudian mengambil posisi mengangkangi muka Carol. Yang dikangkangi nyengir dan langsung tahu apa yang dimaui Citra.
“Om mesti jilatin memekku sampe aku puas ya, baru ntar kukasih,” perintah Citra. Tanpa disuruh pun Carol sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mulut lebarnya segera bergerak, melahap kenikmatan di selangkangan Citra yang bebas jembut.

Sovi terus menonton, dan dalam hatinya terbersit sedikit rasa kagum akan sikap Citra yang berani pegang kendali. Sambil terus mengintip, dia bermasturbasi. Kalau tadi pagi alat bantunya terong, maka kali ini yang dipakai adalah barang yang sedang ada di tangannya,dompet yang tadi ketinggalan. Sovi menggesek-gesekkan sudut dompetnya ke celana dalamnya selagi melihat Citra menggelinjang keenakan ketika memeknya dimakan Pak Carolus. Dilihatnya lidah laki-laki itu menjilat, menjolok ke dalam, memain-mainkan klitoris; untuk urusan jilat-menjilat kemaluan wanita, rupanya orang ini sudah ahli. Terbukti dari reaksi yang ditunjukkan Citra. Kakak ipar Sovi itu tak henti-hentinya merintih dan mendesah karena kenikmatan, kedua tangannya mencengkeram hampir menjambak kepala Pak Carolus, wajahnya yang bermake-up tebal tampak sangat mesum dan bernafsu.

“Aah… emm.. uh… enak banget Om… aduh gila… Omm… terusshh…” bibir merah Citra gelagapan meracau.
Tidak hanya Citra. Di luar, Sovi ikut terangsang. Khayalannya mulai liar. Dia tidak lagi melihat Citra dioral oleh Pak Carolus. Malah dia membayangkan dirinyalah yang sedang dikangkangi Citra, didominasi oleh kakak iparnya yang binal itu, dan sebagai budak yang patuh dia harus menuruti, kalau tidak, Citra akan menghukumnya dengan berbagai siksaan. Makin gencarlah masturbasi Sovi karena khayalan tadi, dia membayangkan ditundukkan oleh Citra, digerayangi, dikemplangi, mukanya diduduki dan dipaksa makan memek…
“Aughhh!!” Terdengar jeritan erotis dari Citra yang takluk, jurus-jurus silat lidah Pak Carolus membuat si pemilik salon yang seksi itu orgasme sampai kelojotan. Tidak tanggung-tanggung, yang dialami Citra bukan orgasme biasa, tapi dia sampai memuncratkan cairan dari kemaluannya yang lantas membasahi muka Pak Carolus.

Citra ambruk ke belakang, terkapar di atas tubuh Carol, gemetar dan terengah-engah.
“Haduh… ampun Om… gila enak banget tadih…” Citra harus mengakui keahlian Carol. Carol senyum-senyum sambil mengingatkan,
“Yo wis, ganSovin, Om udah bikin kamu merem melek tadi, sekarang giliran anunya Om masuk sono ya Cit?”

Kepala Citra bersandar di paha kanan Carol, rambutnya yang tergerai menutupi penis Carol yang sedari tadi tidak ada yang mengurusi. Citra mengelus-elus batang yang tegang itu, menciumnya, lalu bangun dari ranjang. Dia mengambil sesuatu dari laci meja yang ada di dalam ruangan itu, ternyata sebungkus kondom. Dibukanya bungkus kondom itu, lalu dengan profesionalnya dia pasangkan kondom itu ke burung Carol. Dengan memakai mulutnya, tentu saja. Carol tidak berubah posisi, tetap telentang. Citra kembali naik ke ranjang dan mengangkangi tubuh Carol, kali ini di selangkangan, bermaksud bersetubuh dengan posisi perempuan di atas. Sambil memasukkan penis Carol ke vaginanya, Citra memanggil Prily,
“Pril, ayo ikutan.”
“Om aku mau juga dong dijilatin memeknya  kayak Mbak Citra tadi…” pinta Prily. Carol oke-oke saja, dan Prily pun ikut naik ke ranjang setelah melepas semua pakaiannya, mengangkangi muka Carol tapi dengan arah berkebalikan dengan posisi Citra tadi sehingga dia berhadapan dengan Citra yang mulai bergerak naik-turun menunggangi kemaluan Carol. Sambil tertawa-tawa kegelian merasakan hidung dan bibir Carol bermain di daerah pribadinya, Prily mengedip genit ke arah bosnya, Citra. Citra tersenyum mesem melihat asistennya yang keganjenan itu, lalu memberi ciuman bibir yang hangat kepada Prily. Berbeda dengan mulut dan lidahnya, penis Carol tidak istimewa, apalagi untuk Citra yang sudah pernah merasakan berbagai bentuk, warna, dan ukuran alat kelamin laki-laki. Makanya dia bersetubuh dengan Carol hanya demi formalitas saja, dan mencari kenikmatan pribadi dari Prily. Sambil menindih Carol di bawah, kedua pekerja salon itu saling cium dan pagut. Citra meremas-remas dada Prily yang tak bisa ditandingi payudaranya sendiri itu dengan gemas, seolah iri dengan kelebihan Prily itu. Dari bawah, tangan Carol juga ikut main. Prily yang memang mudah kegelian lebih banyak tertawa menanggapi serbuan cabul dari bawah dan depan.
Semua itu terus diperhatikan dari celah tirai oleh Sovi, yang sampai terduduk karena tak kuat menahan gelora nafsu. gairahsex.com Sovi sudah tidak memperhatikan betapa tak senonoh posisi tubuhnya sekarang: duduk mengangkang dengan daster tersingkap dan celana dalam basah akibat kemaluannya terus-menerus dirangsang sendiri. Makin lama Sovi mengintip, makin ingin Sovi masuk dan ikut dalam permainan tiga orang di dalam. Dan di antara mereka bertiga, Sovi ternyata jadi paling ingin menggumuli kakak iparnya, Citra. Melihat apa yang sedang Citra perbuat, Sovi jadi ingin dibegitukan juga oleh kakak iparnya: merasakan bibir merah Citra melumat bibirnya, merasakan kuku-kuku Citra mencengkeram buah dadanya. Citra memang cukup terbuka dalam orientasi seksual, umumnya dia suka laki-laki, tapi Citra tidak segan mencoba pengalaman dengan perempuan juga. Sedangkan Sovi selama ini merasa dirinya biasa-biasa saja, belum pernah mencoba mencari tahu apakah tidak hanya laki-laki saja yang bisa membangkitkan gairahnya.
“…agh… ahm… mm… mmm…” Tahu dirinya tak seharusnya berada di sana, Sovi berusaha keras meredam suara-suara penuh nafsu yang lolos dari mulutnya dengan cara menggigit ujung dasternya. Tentu saja tindakannya itu membuat posisinya tambah vulgar, karena celana dalamnya dan perutnya jadi terungkap. Sovi tak peduli, yang menguasai dirinya hanya kenikmatan dan fantasi. Akhirnya sampai juga dia ke klimaks.
“MmMMmmMMm!”

Pada saat yang hampir bersamaan, Carol juga mencapai orgasme, dia ejakulasi di dalam kondom yang membungkus penisnya ketika sedang berada di dalam Citra. Sebelumnya lidah sakti Carol sudah membuat Prily klimaks sehingga si ahli pijat berdada subur itu terhempas ke depan, sepasang payudaranya menimpa perut Carol. Citra tersenyum puas. Sepanjang hidupnya dia mencari kenikmatan demi kenikmatan, dan menurutnya cara hidupnya sekarang sebagai seorang pelacur berkedok pemilik salon sudah nyaman. Carol hanyalah satu dari banyak laki-laki hidung belang, tidak semuanya bisa memberikan kenikmatan fisik kepadanya karena banyak juga yang ukuran alat kelaminnya kecil, atau ejakulasi dini, atau memang tidak becus saja. Tapi yang jelas semuanya memberikan kenikmatan dalam bentuk lain, berupa penghasilan dan rasa kagum mereka terhadap dirinya. Citra bukan orang yang bisa betah dengan satu pasangan saja untuk waktu lama, jadi dia tak mempermasalahkan suaminya yang kabur.

Yang dia inginkan sekarang hanyalah menjalani kehidupan, sambil menyambar kenikmatan yang bisa didapat. Pengamatan Citra cukup jeli. Dia bukannya tidak tahu ada orang sedang mengintip kegiatannya dengan Prily dan Carol. Dia melihat kelebatan tubuh orang yang bergegas berdiri lalu pergi menjauhi tirai. Dia tahu itu Sovi, dan dia bisa mengira sedang apa Sovi di sana. Beberapa hari lalu, ketika Mang Enjup dan rombongan mampir untuk memakai jasanya, Citra sedikit-sedikit memancing informasi dari mereka, dan meski Mang Enjup tidak banyak mengungkapkannya, Citra bisa menduga apa yang baru saja terjadi. Sejak saat itu Citra dilanda perasaan aneh, seolah-olah dia jadi partner tak langsung Mang Enjup dalam mengubah penampilan dan kepribadian Sovi. Tapi dia menganggap, pada akhirnya yang menentukan adalah Sovi sendiri, apakah dia mau menerima perubahan itu atau tidak. Citra tak mau menghakimi. Dia sudah kenyang dihakimi.

Sovi pulang dengan perasaan campur-aduk. Setelah tadi mengintip dan terangsang sampai orgasme, Sovi tidak berani lama-lama, dan langsung bergegas meninggalkan salon Citra sebelum kepergok. Walau kakinya masih lemas, dia merasa tak enak kalau sampai ketahuan ngintip. Kepalanya masih penuh dengan pertanyaan. Siapa sebenarnya Pak Carolus? Mengapa dia bisa sampai berhubungan seks dengan Citra dan Prily? Apa sebenarnya yang selama ini dilakukan Citra?

Bagi Sovi, hari itu benar-benar penuh kejadian.

Postingan terkait:

Powered by Blogger.